Sumpah Pemuda
28 Oktober 1928 pernah terlintas dalam sejarah dan kini hanya tinggal kenangan bangsa
ini. Ini peristiwa sejarah yang unik, hanya terjadi sekali dan bisa jadi untuk
selama-lamanya. Bahwa sumpah para pemuda ini sejatinya merupakan cikal bakal
kelahiran bangsa ini, terbentuk dalam angan-angan orang muda hebat, lalu
diikrarkan sebagai sumpah yang mengikat. Tidak hanya mengikat pemuda tertentu
dari sekian banyak pemuda yang hadir saat itu, melainkan semua!
Jika melirik
kembali peta dan sejarah peristiwa 28 Oktober 1928 itu orang akan mengetahui
bahwa gerakan Budi Utomo (yang terbentuk 20 tahun sebelumnya) yang menginspirasi
berkumpulnya para pemuda dalam pada itu. Tujuan gerakan Budi Utomo jelas, yakni
memajukan dan membangkitkan masyarakat dan kebudayaan Jawa, terutama melalui
pendidikan. Pengaruh gerekan ini amat kental, yakni munculnya banyak organisasi
pemuda (Tri Koro Darmo – Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong
Betawi, Jong Minahasa, Sekar Rukun, dan Pemuda Timor).
Meski demikian,
gerekan yang paling gencar untuk mengumandangkan adanya persatuan ialah
Perhimpunan Indonesia (PI). Ideologi PI tertuang dengan jelas, yaitu Kesatuan Nasional:
mengesampingkan perbedaan-perbedaan sempit dan menciptakan kesatuan aksi, Solidaritas:
tanpa melihat perbedaan antar sesama bangsa Indonesia, Non Kooperatif:
kemerdekaan harus timbul dengan kekuatan sendiri, dan Swadaya: dikembangkan
struktur alternatif nasional politik, sosial, ekonomi dan hukum. Maka berbagai
rapat pun digelar untuk mewujudkan ide-ide cemerlang itu.
Pada tanggal
25 November 1925, organisasi-organisasi pemuda mulai berkumpul untuk membentuk
panitia persatuan pemuda. Pada tahun berikutnya, tanggal 30 April 1926,
diadakan rapat pemuda pertama yang dikenal dengan Kongres Pemuda I. Selanjutnya,
pada tanggal 26-28 Oktober 1928, diadakan Kongres Pemuda II. Inilah kesempatan
emas yang dimanfaatkan untuk membacakan hasil pembicaraan dalam kongres itu. Hasilnya
ialah “Sumpah Pemuda” yang dikenal hingga saat ini. Sumpah inilah yang di
dalamnya dicantumkan BERTUMPAH DARAH SATU, BERBANGSA YANG SATU dan BAHASA YANG
SATU, yaitu INDONESIA. Beginilah isi Sumpah Pemuda itu:
Kami
putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
Kami
putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami
putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan,bahasa Indonesia.
Ada pengakuan
akan tumpah darah yang satu, tanah Indonesia, ada pengakuan akan berbangsa yang
satu, bangsa Indonesia dan, ada junjungan akan bahasa persatuan, yaitu bahasa
Indonesia. Pertama, Satu tanah air: menikmati hidup dalam satu wilayah
yang sama, bertumbuh dan berkembang dalam tanah yang sama. Mereka sudah tidak
memikirkan bahwa wilayah yang lain memiliki kekayaan alam yang berlimpah
sehingga mengundang kecemburuan sosial. Semua adalah milik bersama dan untuk
bersama. Kedua, Berbangsa satu: terlebih dahulu menanggalkan identitas-identitas
primordial seperti etnis, suku, dan ras. Doktrin-doktrin yang melekat pada
suatu kelompok yang merasa memiliki perbedaan budaya, sejarah, maupun
prinsip-prinsip hidup sendiri juga dicoba untuk dihargai dan dihormati karena
memiliki rasa ”berbangsa satu”. Ketiga, Bahasa persatuan: sudah mempunyai sarana untuk
mengikat persatuan mereka. Persatuan membutuhkan suatu komunikasi yang terus
menerus >> Bahasa Melayu yang kemudian diangkat menjadi bahasa
Indonesia tapi tanpa perlu meninggalkan bahasa daerah masing-masing.
Adapun
nilai-nilai untuk membangun persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, yaitu
kebersamaan dan persaudaraan, toleransi, tanggung jawab dan disiplin
diri, serta wawasan dan
nasionalisme. Alasan nilai-nilai itu diterima tidak lain karena adanya kesamaan nasib (semangat
pendorong dan mempererat tali persaudaraan). Sebaliknya, perjuangan individu
justru akan memperburuk
keadaan. Akan tetapi, tetap disadari bahwa Pluralitas adalah sebuah kekayaan
penting bagi bangsa Indonesia ini. Maka di sini toleransi menjadi instrumen utama untuk mencapai
suatu kesatuan. Sebab hasil dari toleransi itu sendiri ialah membentuk
tanggungjawab bersama untuk mensukseskan janji Sumpah Pemuda.
Apa yang
dapat dipetik dari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 itu?
Sederhana
saja, lihatlah, para pemuda itu sangat visoner dalam berpikir. Mereka membangun
suasana keakraban saat berjumpa, memupuk persaudaraan, bahkan tak pernah mereka
‘mencungkil’ perbedaan yang mereka bawa masing-masing. Perbedaan tetaplah
perbedaan, bukan untuk dijadikan alasan perseteruan, tetapi berdiri menatap
masa depan sebagai bangsa yang satu, Indonesia. Para Pemuda 28 Oktober 1928
ialah pembangun bangsa, pengangkat harkat dan derajat bangsa, penyatu
kepentingan rakyat dan teristimewa penjaga kerukunan, keharmonisan, toleransi
bangsa. Ini semua yang sesungguhnya termaktub dalam sumpah itu. Namun, sumpah
itu agaknya kini “dilanggar” oleh anak bangsa sendiri. Hukuman dari pelanggaran
itu adalah kehancuran di mana-mana, dalam bangsa ini.
Kiranya menjadi
refleksi untuk Anda, Anak Bangsa Indonesia...
Cinta
untuk Bangsa, eng.,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar